amirul bojonegoro

bocah asli bojonegoro

Senin, 21 Desember 2009

MAY DAY BURUH TINTA

MEY DAY DARI BURUH TINTA

Kamis, 01/05/2008, 10:00 wib, amirul mukminin - jawakini
Seperti kaum Syi’ah yang membawa spirit bulan As-Syura nya, Bulan Mei ini barang kali menjadi milik kaum buruh. Sebelum berdemo,malam hari mereka sudah menyiapkan poster, bendera serikat, selabaran dan bagi yang ingin berkonvoi tentunya segera memenuhi tangki sepeda motor dengan bensin. Padahal disaat yang sama, para polisi sedang sibuk menyiapkan peralatan anti huru-haranya.

Saya agak termenung pagi ini. adakah demo buruh yang bisa saya liput? Padahal di saat yang sama saya juga buruh-meski dalam bahasa yang agak halus lebih terbiasa disebut ‘kuli tinta’. “kalo ndak ada demo, gimana kalo saya demo single aja” gumanku sambil ketawa dalam hati.

Marx, Penggagas masyarakat tanpa kelas itu pernah berkata : “bersatulah kaum buruh!”. Menurutnya dalam suatu analisa kelas, antara buruh (pekerja) dengan pemilik modal (pengusaha) akan selalu terjadi pertentangan kepentingan dan karenanya kedua kelompok ini selalu dikatakan antagonistik. Pertentangan ini terus dibesarkan sehingga diharapkan terjadi suatu revolusi sosial. Dalam ajaranya, buruh atau rakyat secara umum dapat memiliki seluruh alat produksi melalui kepemilikan oleh negara.

Namun ternyata negara penganut paham tersebut ternyata mengalami kebangrutan. Dan hal ini bisa di saksikan dengan runtuhnya negara-negera komunis terutama Uni Soviet, Eropa Timur dan sebagainya.

Lalu mengapa justru sistem pasar bebas dapat survive di negara-negara Eropa dan Amerika? Sebab hubungan buruh-pengusaha di sana telah terjadi perubahan yang sangat fundamental. Sehingga tuntutan untuk melakukan revolusi sosial dengan sendirinya terhempas. Perkembangan peradapan manusia tidak saja menumbuhkan paradigma baru pada kaum buruh untuk memperkuat posisi tawarnya, melainkan juga telah mengubah orentasi pengusaha dari yang bersifat eklpoitatif menjadi kemitraan (partnership).

Di Indonesia, Berkembang dan meluasnya kerja kontrak, sistem outsourcing (menyewa sekumpulan buruh borongan) yang tidak menjamin hak-hak buruh karena perjanjian yang tidak tegas, hal tersebut masih menjadi isu yang diperjuangkan aktivis buruh saat ini.

Oleh sebab itu, sudah saatnya bangsa ini punya polical will membangun pakta (kesepakatan) sosial baru yang harmonis antara Negara-Pengusaha-Masyarakat (buruh). Orentasi paradigma juga harus dimiliki oleh Partai Politik yang sering mengatasnamakan buruh. Jika mereka tidak paham dengan keinginan para buruh, maka benar kritikan para buruh itu. Bahwa nasib kaum buruh tidak bisa dititip-titipkan kepada partai-partai yang tidak menghayati gerakan buruh, tetapi harus dititipkan kepada dirinya sendiri dengan mengambil langkah-langkah politik yang nyata.

Maka …..”tidakkah engkau bosan didemo, hai wakil rakyat !!!” orasiku dalam hati…

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda