amirul bojonegoro

bocah asli bojonegoro

Jumat, 18 Desember 2009

KISAH KECIL

PART I..

PERUT DAN CITA-CITA



Namaku sebenarnya amir, kelahiran Bojonegoro, tapi semenjak kecil dipanggil bayu, rumahku dekat masjid yang penuh kedamaian.



Di masjid ini juga ada cerita yang menarik, tentang anak-anak desa yang terkadang ”nakal”. Namanya Hamid, bambang, dan ibas. Mesjid, selain sebagai tempat mencari ilmu dan beribadah juga merupakan tempat istirahat yang begitu luar biasa. Ya.. remaja-remaja (sekitar 12 anak remaja) di desa ku memilih meninggalkan rumah sehabis isya – untuk sekedar bercanda bercerita dan kemudian tidur di teras masjid kebanggaan kami itu.



Tengah malam itu, semua terlelap kecuali hamid dan ibas. tidak ada alas untuk tidur di atas ubin yang tua itu, melainkan sarung meraka. Sarung-sarung lusuh yang bisa tarik kebawah kemudian jika dilepas kembali lagi keatas.



”mid… aku lapar sekali ” kata ibas pada hamid yang berbaring pas di kanannya.



Hamid hanya diam namun nampak berpikir. Sementara ibas, hanya menepuk nepuk perutnya mirip irama tabuhan gendang.



”siiip tenan, ayo ikut aku bas!..” ucap hamid sambil menarik sarung ibas.



Ibas pun langsung bangkit, seolah ia yakin hamid akan menjadi pengenyang perutnya yang lapar tersebut.



”rasanya kita butuh satu teman lagi, jadi bambang mesti kita bangunkan”..



”bangun… bangun mbang!!... yuk kita masak-masak..” bisik hamid dengan lirih agar tak terdengar temannya yang masih tidur pulas.



Bagi bambang, kata ”masak-masak” seperti air seember yang mengguyur badannya. Ia pun lantas membuka matanya dan bangkit. Maklum, hampir seumur hidupnya jarang sekali ia bisa makan 3 kali sehari. Bukan hanya bambang, kondisi yang hampir meliputi semua teman-teman kami penghuni masjid waktu itu.



Kami memang terlahir disebuah desa kecil, yang miskin, kecuali bagi mereka para tuan tanah atau para aparat desa. Orang tua kami sebagian besar adalah buruh tani, untuk menyambung hidup, sejak kecil kami sudah di ajari mencari sisa-sisa panen padi (ngasak). Hamid anak, yang agak beruntung, dia salah satu anak aparat desa kami. Dari tanah bengkok, keluarganya tiap hari bisa makan nasi.



………………



Sesampainya dirumah, ibas dan bambang langsung di ajak ke dapur. Di sebuah lemari kecil, hamid mengambil sesuatu yang terbungkus daun jati. Bungkusan itu ternyata daging kambing yang belum di olah.



” nah ini yang kita akan masak!” seru hamid dengan tersenyum.



Ibas dan bambang menyambut nya dengan anggukan kepala dan terdengar sekali bunyi saat keduanya menelan air ludah.



”tapi mid, cukup gak ini, buat sahabat-sahabat yang lain di mesjid ? ” tanya ibas. Meski miskin, ibas dari kecil sudah terkenal dengan jiwa sosial tinggi, suka membantu.



” kalo beras ada banyak, tapi waduhh.. ini dagingnya cuman sedikit”. Jawab hamid sambil mengerutkan dahinya.



Cukup lama mereka bertiga saling diam.



”aku ada ide, hems… kamu punya kecap kan ” teriak bambang, sambil mengacung sebuah sandal bekas yang diperoleh di dekat tumbukan kayu bakar.



Ibas dan hamid masih belum mengerti maksud bambang. Yang mereka pahami, bambang memang selalu bertingkah nakal dan slalu ada saja ide-ide konyolnya.



Ketika bambang menjelaskan idenya tersebut, ibas dan hamid begitu terperanjat, ketiga nyapun lalu tertawa begitu hebat.



Bambang mengambil pisau, mengirisi kecil-kecil sandal karet yang nampak merk-nya ”SWALLOW” itu dicampurnya dengan irisan daging kambing. Lantas di gorengnya campuran tersebut dengan uleg-kan ketumbar, bawang,merica dan garam. Siraman kecap membuat ketiganya mulai tak bisa membedakan mana daging asli, mana daging sandal.



…….





mereka membawanya ke masjid.



” bangun.. bangun.. bangun…makan.. makan… ” mereka dengan semangat membangunkan kami yang masih tertidur.



Satu persatu dari kami pun akhirnya terbangun, bukan karena teriakan mereka, tapi karena bau dari gorengan daging tersebut.



Nasi diratakan memanjang di atas daun pisang bersama lauknya. Lampu minyak tanah yang dibuat dari bekas botol obat menjadi penerangnya.



Sambil duduk berhadapan-hadapan Semua terlihat bergairah menghadapi makanan itu. Meski duduk, sebagian teman-teman terlihat sering membuka dan menutup mata, sebagai tanda masih dilanda ngantuk.



” baiklah teman, mari kita makan bersama makanan ini” kata hamid..



Tanpa basi-basi kami langsung melahap makanan tersebut. Bagi kami, makan dengan nasi kambing dapatlah di hitung dengan jari, ya paling-paling kalau pas Hari Raya Idul Adha saja. Itupun kalau kebagian.



Bambang, ibas, dan hamid sedikit aneh, mereka mengambil daging yang sulit dikunyah dari mulutnya . Tak sedikit ketiganya memegang perutnya karena menahan tawanya.



Berbeda dengan mereka bertiga, kami yang lain menikmati betul makananan tersebut. Apalagi teman-teman yang ngantuk, makan sambil mata terpejam, daging yang sulit dikunyah di kira lemak (gajeh) kambing. Tak ada sensor, semua nya langsung di telan.



Semua telah bersih di makan, kecuali daun pisang. Dan kami berangkat tidur kembali.





.................................





Selepas subuh, kami semua baru tahu cerita sesungguhnya.



Tidak ada kemarahan, semua tertawa.......... bagi kami tindakan jail adalah bumbu persahabatan. Ide bambang meski konyol, telah membuat kami bisa makan dengan bersama.



Ada kenakalan, ada kecerian, ada kekonyolan, di balik kekompakan persahabatan kami, anak-anak desa yang miskin.



Yang kemudian lahir-lahir remaja-remaja yang mempunyai cita-cita menjadi seorang pemimpin. Pemimpin yang mempunyai visi, visi yang tidak muluk-muluk. Visi itu adalah : membuat masyarakat kami bisa makan 3 kali dengan tenang.
Bersambung..

1 Komentar:

Pada 5 Mei 2012 pukul 05.10 , Blogger eko s wahyudi mengatakan...

Sippp pak modin.........tp kok tau di upgrade blognya.............

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda